Tuesday, August 19, 2014

Larangan Berkabung

Kalau ingin berkabung syarat tidak lebih tiga hari dr hari kematian. Sebab itu dalam riwayat Zainab binti Abi Salamah, dia berkata,

“Aku masuk menemui Ummu Habibah r.ha iaitu isteri Nabi SAW ketika sampainya berita kematian ayahnya Abu Sufyan r.a dari negeri Syam. Pada hari ketiga setelah ayahnya (Abu Sufyan) meninggal, Ummu Habibah meminta minyak wangi lalu mengusapkannya pada kedua sisi wajahnya dan kedua pergelangannya. Beliau berkata: Demi Allah! Aku sebenarnya tidak berkeinginan terhadap wangian, cumanya kerana aku pernah mendengar Rasulullah SAW : Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, iaitu empat bulan 10 hari.”

Telah wafat Rasulullah SAW sedangkan para sahabat baginda yang amat mengasihi baginda tidak melakukan amalan berkabung. Telah wafat para khalifah yang sangat mulia; Abu Bakr, Umar, Uthman, ‘Ali dan seluruh para sahabat Nabi SAW yang mulia, umat Islam tidak pernah membuat amalan berkabung! Telah meninggal ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz khalifah yang agung, umat Islam juga tidak berkabung. Padahal mereka lebih layak untuk ditangisi dan berkabung.

Hamba Yang Baik, Kaya, Muslim dan Mukmin

السلام عليكم ورحمةالله
بسم الله الرحمن الرحيم

Rasulullah s.a.w. bersabda “Jauhilah dirimu daripada perkara yang diharamkan, kamu akan menjadi hamba yang baik, dan redhalah dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu, kamu akan menjadi orang yang paling kaya. Berbuat baiklah kepada jiran, kamu akan menjadi seorang Mukmin. Sukailah orang lain seperti kamu menyukai dirimu, kamu menjadi seorang Muslim. Dan janganlah kamu banyak ketawa kerana banyak ketawa itu dapat mematikan hati (Riwayat Ahmad melalui Abu Hurairah r.a.)

Dalam hadith yang lain Rasulullah saw bersabda, Tunaikanlah apa yang telah difardhukan Allah ke atas dirimu nescaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Dan jauhilah apa yang diharamkan Allah, nescaya kamu menjadi orang yang paling wara`. Dan redhalah terhadap apa yang diberikan untukmu, nescaya kamu menjadi orang yang paling kaya
(Riwayat Addi melalui Ibnu Masud r.a.)

Orang Yang Kaya

Orang yang kaya sebenarnya ialah orang yang kaya jiwanya iaitu tidak bakhil atau kedekut. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Bukanlah kekayaan itu harta yang melimpah, akan tetapi kekayaan (yang sebenar-benarnya) ialah kaya jiwa.” 

Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wa sallam bersabda yang bermaksud: “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba, maka dia menjadikannya kaya jiwa dan dalam hatinya ada takwa. …
(Riwayat Hakim melalui Abu Hurairah)

Jangan Banyak Ketawa. 

Ibnu Mas’ud meriwayatkan dari Auf bin Abdullah bahawa biasanya Rasulullah S.A.W. tidak tertawa melainkan senyum simpul. Rasulullah tidak pernah ketawa berdekah-dekah, hanya tersenyum sahaja samada senyum kecil atau senyum lebar. “Tawa Rasulullah SAW, hanyalah senyuman”
(Riwayat Tirmidzi).

Sesungguhnya Rasulullah SAW apabila ketawa baginda hanya menampakkan barisan gigi hadapannya sahaja, bukan ketawa yang berdekah-dekah, mengilai-ngilai atau terkekeh-kekeh.

Dalam sebuah hadith Rasulullah SAW menyebut “Aku hairan orang yang tertawa dengan mulut yang terbuka penuh sementara ia tidak tahu apakah tuhan menyukai perbuatannya itu atau tidak“.

Daripada Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda: “Sekiranya kamu mengetahui apa yang aku ketahui nescaya kamu kurang ketawa dan banyak menangis.” (Riwayat al-Bukhari).

Rasulullah SAW mengetahui kerana Baginda telah melihat dengan matanya sendiri keadaan Syurga dan Neraka semasa Mikraj.

Saturday, August 2, 2014

AMALAN YANG DICINTAI ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته...
بسم الله الرحمن الرحيم...

Memasukkan Rasa Gembira di Hati Muslim

Ibnu Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Amal ibadah yang paling dicintai Allah ‘Azza wa jalla adalah engkau memasukkan rasa gembira kepada orang muslim atau menghilangkan kesulitan darinya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau mengusir rasa lapar darinya.” (HR At Thabrani)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : “Barangsiapa menghilangkan kesulitan dari seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Allah akan selalu menolong seseorang selama ia menolong orang lain.” (HR Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi)

Imam Muhammad bin Ishak rahimahullah telah meriwayatkan bahwa orang orang Madinah ada yang hidup selalu mendapatkan bantuan, tetapi mereka tidak tahu dari mana bantuan tersebut dan siapa yang memberikannya. Tatkala Zainal Abidin bin Husain rahimahullah meninggal dunia, mereka baru merasakannya, mereka baru tahu bahwa ternyata dialah orangnya yang dahulu selalu mendatangi mereka di waktu malam dengan membawa bantuan yang diberikannya kepada mereka. Mereka juga menyebutkan, ketika memandikannya mereka menemukan pada punggungnya dan pundaknya bekas-bekas membawa karung ke rumah-rumah para janda, anak-anak yatim, dan kaum miskin.

Abu Said Al Khudzri r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda “Perbuatan ma’ruf dapat mencegah mati secara buruk.” (HR Ibnu AbidDunya)

Sifat “Itsar” (Mengutamakan Orang Lain) dan “Muwasah” (Menghibur Orang Lain)
Allah swt telah memerintahkan kita agar kita memegang teguh kedua sifat mulia ini, ketika Dia memuji kaum Anshar dalam firmanNya :

“Dan, mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan).” (Al Hasyr : 9)

Ibnu Umar r.a. berkata, “Aku pernah memberikan hadiah kepala kambing kepada salah seorang sahabat Rasulullah saw, tetapi ia berkata, “Ada orang lain yang lebih memerlukan daripada saya.” Lalu, dia pun mengirimkannya kepada orang tersebut, lalu orang kedua itu mengirimkannya kepada orang ketiga yang menurutnya lebih memerlukan daripada dirinya. Begitulah seterusnya. Setiap orang yang dikiriminya, kerana dianggap lebih perlu  mengirimnya (memberikannya) kepada orang lain hingga kepala kambing tersebut kembali ke orang pertama, setelah ia berpindah-pindah melalui tujuh orang.”

Di antara keajaiban itsar adalah apa yang diriwayatkan oleh Adawi ketika ia bertutur, “Aku pergi sambil membawa air untuk anak pamanku pada saat terjadinya perang Yarmuk. Aku berkata dalam hatiku, “Jika ia haus, aku akan memberinya air.” Lalu aku menemukannya, aku berkata, “Aku akan memberimu air minum.” Ketika ia mengisyaratkan bahwa ia mau, tiba-tiba ada orang lain yang sedang mengaduh, “Aduh, aduh”. Sepupuku itu mengisyaratkan kepadaku dengan kepalanya agar aku segera pergi ke orang tersebut. Ternyata ia adalah Hisyam bin Ash. Aku berkata, “Aku akan memberimu minum.” Ia memberikan isyarat “Ya”. Lalu, ia mendengar ada orang lain yang sedang mengaduh-aduh.

Hisyam pun mengisyaratkan kepadaku agar aku pergi kepadanya. Ternyata orang tersebut telah meninggal dunia. Maka aku segera menemui Hisyam, dan ternyata ia telah meninggal dunia. Lantas aku mendatangi anak pamanku, dan ternyata ia juga telah meninggal dunia. Tidak satupun yang sempat minum airku karena sikap itsar mereka kepada orang lain.”

Contoh lain. Al Hikam dalam kitab al Mustadrak dan Abu Nu’aim dalam kitab Auliya meriwayatkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan r.a. mengirimkan 80.000 (delapan puluh ribu) dirham kepada Aisyah r.a. yang saat itu sedang berpuasa, dengan berpakaian lusuh. Saat itu juga hadiah tersebut dibagikan kepada kaum fakir miskin sehingga tidak tersisa sedikitpun. Pembantu Aisyah berkata kepadanya, “Wahai Ummul Mukminin, mengapa engkau tidak menyisakan satu dirham sehingga engkau mampu membeli daging untuk berbuka nanti? Jawab ‘Aisyah r.a., “Wahai putriku, jika engkau mengingatkanku tadi, tentu aku melakukannya. Janganlah engkau marah padaku.”

Perhatikanlah, bagaimana ‘Aisyah sampai melupakan dirinya sendiri sehingga tidak menyisakan satu dirham pun. Hal itu terjadi kerana perhatiannya yang penuh kepada fakir miskin, para janda, dan orang-orang yang lain. Dia ingin menggembirakan hati orang lain dan tahu bahwa jalan ke arah sana adalah dengan melakukan itsar dan muwasah.

Mendoakan Kaum Muslimin dan Muslimah, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Abu Darda r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Doa orang muslim untuk saudaranya yang telah tiada, akan dikabulkan. Di kepalanya terdapat malaikat mewakili, selagi mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Malaikat tersebut akan mengatakan “Amin” dan engkau akan mendapakan hal serupa.” (HR Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majjah)

Seorang sahabat yang mulia, Imran bin Husain, mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Doa seorang untuk saudaranya yang telah tiada, tidak akan ditolak.” (HR al Bazaar)

Memberikan Shadaqah dan Mengerjakan Kebaikan

Dulu, kaum salafus saleh berkata, “ Orang yang hidup untuk dirinya sendiri tidak layak untuk dilahirkan.”

Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur pada suatu hari yang terik. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan, maka dibukanya botnya, lalu wanita tersebut diampuni dosa-dosanya.” (HR Muslim)

Rasulullah saw telah memudahkan urusan sedekah ini kepada kita dengan sabda beliau : “Hendaklah salah seorang dari kamu menyelamaykan wajahnya dari api meskipun hanya dengan (melakukan sedekah sebesar) separuh kurma, yakni setengah biji kurma.” (HR Ahmad)

“Jagalah dirimu dari api nereka, meskipun dengan separuh biji kurma. Jika tidak menemukannya, maka (bersedekahlah) dengan tutur kata yang baik.” (HR Bukhori, Muslin, Nasa’i, dan Darami)

Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama para sahabatnya dan berkata, “Siapa di antara kalian yang puasa hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Tanya Nabi saw lagi, “Siapa di antara kalian yang yang menjenguk orang sakit hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Rasulullah saw bertanya : “Siapa di antara kalian yang hari ini mengiringi jenazah?” Jawab Abu Bakar, “Saya”. Lalu Rasulullah saw bersabda : “Semua (perkara) itu tidak berkumpul pada diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR Muslim)

Mengunjungi saudaranya (Kaum Muslimin)/bersilaturrahmi

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya yang tinggal di sebuah dusun, maka Allah Ta’ala mengirim satu malaikat untuk mengikutinya dalam perjalanan. Setelah bertemu dengan orang itu, ia bertanya: “Hendak ke mana Anda?” Orang itu menjawab, “Hendak mengunjungi saudaraku.” Malaikat itu bertanya, “Apakah berkunjung ini kerana Anda berhutang budi kepadanya?” Jawab orang itu, “Tidak, tetapi aku mencinta dia semata-mata kerana Allah Ta’ala.” Kata malaikat, “Sesungguhnya aku (malaikat) diutus Allah Ta’ala menemui Anda, untuk menyampaikan bahwa Allah mencintai Anda kerana Anda mencintai saudaramu kerana Allah".
(HR Muslim, Ahmad, dan Bukhori)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...